Cheat Lost Saga

Sabtu, 24 Desember 2011


Cheat Lost Saga Fullhack Skill No Delay+ 1 Hit Crusade Terbaru Setelah MT
  Coba anda test sendiri apakah masih work apa kagak silahkan :

Cheat Lost Saga Fullhack Skill No Delay+ 1 Hit Crusade Terbaru Setelah MT

Fiture :

  • No Delay Skill(Unlimited ilmu)
  • 1HIT Crusade(Untuk Gebe :D)
  • 1HIT All Mode(Atut di Banned)
  • Double Peso
  • Double Exp
  • Anti Drop Damage(Auto ON)


Tutorial :
Cara penggunaan ada di dalam file

NB : Kalo udh ceklis cheat langsung close aja gan cheatnya / tunggu 2-5 dtk, setelah itu close cheatnya

silahkan klik link dibawah ini untuk mendownload Cheatnya :


Free Download Cheat Lost Saga Fullhack Skill No Delay+ 1 Hit Crusade Terbaru Setelah MT [download]

Semoga Cheat Lost Saga Fullhack Skill No Delay+ 1 Hit Crusade Terbaru Setelah MT masih work.

All I Ever Wanted - ShifdaFlow shuffle

Sabtu, 19 Maret 2011

Empat Penyebab Anak Malas Belajar

Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.
Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.
Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.
1. Komunikasi tidak efektif
Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”
Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?
Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”
Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.
Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.
2. Tak terbantahkan
‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.
Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?
3. Target tidak pas
Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.
Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.
Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.
4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik
Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.
Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek
Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya.
Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”
Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”

WELCOME !!: Emoticons Di Kotak komentar

Rabu, 09 Februari 2011

WELCOME !!: Emoticons Di Kotak komentar: "assalamualaikum .. seperti biasa gue mau share ilmu gue ke loe semua .. kali ini ilmu nya : taro emoticons pada posting blog . soo langsung ..."

Selasa, 08 Februari 2011

Tips Agar Baterai Ponsel Tahan Lama

Tips Agar Baterai Ponsel Tahan Lama

1. Untuk baterai baru, usahakan untuk me-recharge baterai tersebut terlebih dahulu setidaknya selama 6 jam. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan kinerja sel pada baterai yang baru digunakan.

2. Matikan (turn-off) ponsel Anda pada saat me-recharge agar arus listrik pada baterai dapat terisi secara maksimal.

3. Jangan terlalu lama me-recharge ponsel. Segera lepaskan charger apabila arus listrik pada ponsel Anda telah penuh untuk menghindari overload.

4. Jauhkan ponsel dari benda-benda elektronik (TV, radio tape, kulkas, computer, dan sebagainya) pada saat me-recharge. Gelombang elekromagnetik dari benda elektronik tersebut dapat mengganggu kestabilan proses recharge sehingga arus listrik yang masuk menjadi kurang maksimal.

5. Apabila tipe baterai yang Anda gunakan menggunakan sel berbahan dasar Ni-MH (Nickel Metal Hybrid), sebaiknya lakukan recharge pada saat arus listrik dari baterai tersebut benar-banar habis. Sebaliknya jika tipe baterai yang anda gunakan menggunakan sel berbahan dasar Li-ION/Li-PO (Lithium Ion/ Lithium Polymer) maka lakukan recharge saat arus listrik dari baterai masih tersisa, usahakan jangan me-recharge pada saat arus listrik dari baterai benar-benar habis.

6. Apabila Anda akan melepaskan baterai dari ponsel, pastikan ponsel benar-benar dalam keadaan turn-off untuk menghindari terjadinya hubungan arus pendek (konslet).

MC Mong - Sick Enough to Die [Eng Sub|Romanized|Hangul+DL] ft. Mellow(죽을...

Jumat, 14 Januari 2011